Tampilkan postingan dengan label Forum Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Forum Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2009

Imah Sunda


Imah Sunda Sabtu, 19 April 08 - Asep Ruhimat
NU kumaha ari model imah Sunda buhun? Kiwari geus rada hese manggihanana, angot di kota. Ketang di pilemburan ge geus kawilang langka, kajaba mun deuk liar ka kampung adat. Di Kabupaten Tasikmalaya aya Kampung Naga, di Bandung aya Kampung Mahmud, atuh rada jauhna di pasisisan Banten wae. 
Ari imah kuring baheula keur budak, imah panggung. Panto jeung jandelana jarangkung. Unggal jandela make jalosi minangka keur kaamananana. Mun ayeuna mah geus langka manggihan jalosi, kajaba tralis tina beusi. Ari jalosi mah dijieunna tina kai beunang nyugu dialus-alus. Ari babagian nu aya dina imah, ngawengku babancik, tepas, patengahan, pangkeng, leuit, jeung pawon. Perkara model imah Sunda jeung wincikan babagianana urang pedar dina bagian husus bae.
Kasebutna imah panggung tangtu aya kolongan, ari nangtungna tihang nyindekel kana tatapakan. Tatapan imah kuring harita tina batu, wangunna model jubleg, kadieunakeun mah umumna tatapakan teh tina aduk nu dipasangan bata atawa batu, bentukna mah angger jiga jubleg. Najan keur usum ngijih, taneuh di kolong imah angger garing, malah ngeprul jiga keusik lempung. Atuh loba sato laleutik nu baretaheun, kayaning undur-undur, cucunguk taneuh nu sok dipake eupan nguseup, cocopet, jeung tongo. Ngan pedah ari tongo mah tara katenjo, apal-apal geus ngagonyok wae dina taeun.
Harita jeung babaturan mindeng lilipekan di kolong, pangpangna mah resep nguseup undur-undur. Bubuhan kolong imah taneuh mah garing jeung ngeprul, atuh baretaheun undur-undur ge. Ari eupanna mah ku undur-undur deui, ditalian huluna ku bola atawa ramat, resep ngagulawingna. Hanjakal kiwari mah geus langka imah panggung teh, jadi moal kaalaman ku barudak ayeuna ulin lilipekan di kolong imah ge.
Nu matak moal poho, saban tas ulin di kolong, lebah taeun teu weleh digonyok tongo. Tapi da tara kapok, bubuhan resep, isukna lilipekan deui wae.*

Sabtu, 24 Januari 2009

Sundanese Architecture


It can be argued that literature about Sundanese architecture is rare; if there were any, usually incompleter and often superficially written. An entire book that dedicated to the subject does not exist, only as simple note written by anthropologists, thus are merely speculative. Until now, there has been no methodology that could be use to understand the concept of form and meaning in Sundanese architecture, let alone the concept in the process of cultural change. There has been no research, either theoritical or empirical, to linking the two concepts of form and meaning in Sundanese architecture, so the interpretation of the styles are neither complete nor comprehensive. The limit of this study regarding the Sundanese architecture are further complicated by the absence of any ancient palace or royal compoundsóor their physical remains. Ancient manuscripts detailed the artsówritings and oral histories containing informations about ordinary life. Sundanese cultural heritage only revolves around the arts, language, dance, drama, music; but conversely to the artifactsóbuildings, monuments, and their ornamentsóthey are extremely rare. Thus, research about Sundanese architecture requires further study to be doggedly pursued. Prompted by this lack in literature and awareness that the concepts of form and meaning in vernacular architecture are so important in the development of architecture for the future in globalisation era, I have written this book on the basis of research on three case studies of Sundanese vernacular architecture. The case studies have been chosen deliberately so they represent the architectural conditions of Sundanese in the face of the dynamic of change. May this work can serve as a useful reference (or as a starting point to other similar studies) for the development of any necessary strategic steps to ensure the survival of Sundanese architecture in the onslaught of global change. http://www.pursal.com/category/publications/

"IMAH" DALAM ARSITEKTUR BADUY DALAM


Forum Budaya
"IMAH" DALAM ARSITEKTUR BADUY DALAM

Oleh Henry H Loupias

Pada umumnya kehidupan sehari-hari suku-suku di pedalaman mengandalkan naluri, termasuk dalam upaya menyesuaikan serta menyelaraskan diri dengan lingkungan alam sekitarnya. Banyak teknik atau cara yang digunakannya tergolong berteknologi cukup "tinggi" dan mampu memprediksi kebutuhan hidupnya hingga masa depan.

Kecenderungan tersebut diperlihatkan secara jelas pada arsitektur vernakular suku Baduy Dalam di Kampung Cibeo. Bentuk dan gaya bangunan rumah tinggalnya sangat sederhana, dibangun berdasarkan naluri sebagai manusia yang membutuhkan tempat berlindung dari gangguan alam dan binatang buas. Kesan sederhana tersebut tersirat dalam penataan eksterior dan interiornya.

Seluruh bangunan rumah tinggal suku Baduy menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan. Menghadap ke arah barat dan timur tidak diperkenankan berdasarkan adat. Di samping itu, ada hal yang cukup menarik dan penting di kalangan suku Baduy, yaitu cara mereka memperlakukan alam atau bumi. Mereka tidak pernah berusaha mengubah atau mengolah keadaan lahannya-misalna ngalelemah taneuh, disaeuran, atawa diratakeun-untuk kepentingan bangunan yang akan didirikan di atasnya.

Sebaliknya, mereka berusaha memanfaatkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi lahan yang ada. Hasilnya memperlihatkan permukiman yang alami. Bangunan-bangunan tersebut bagaikan sebuah kesatuan dari alam itu sendiri, berdiri berumpak-umpak mengikuti kontur atau kemiringan tanahnya.

Rumah tinggal suku Baduy Dalam termasuk jenis bangunan knock down dan siap pakai, yang terdiri dari beberapa rangkaian komponen. Selanjutnya, komponen-komponen tersebut dirakit atau dirangkai dengan cara diikat menggunakan tali awi temen ataupun dengan cara dipaseuk. Konstruksi utamanya yang berfungsi untuk menahan beban berat, seperti tihang-tihang, panglari, pananggeuy, dan lincar, dipasang dengan cara dipaseuk karena alat paku dilarang digunakan. Justru teknik tersebut bisa memperkuat karena kedua kayu yang disambungkan lebih menyatu, terutama ketika kedua kayunya sudah mengering.

Sementara komponen seperti bilik (dinding), rarangkit (atap), dan palupuh (lantai) hanya sekadar diikat atau dijepit pada bambu atau kayu konstruksi. Oleh karena itu, bangunan rumah tinggal suku Baduy termasuk jenis bangunan tahan gempa karena konstruksinya bersifat fleksibel dan elastis. Rumah panggung

Bangunan rumah tinggalnya berbentuk rumah panggung. Karena konsep rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan memiliki ketinggian berbeda-beda. Pada bagian tanah yang datar atau tinggi, tiang penyangganya relatif rendah. Adapun pada bagian yang miring, tiangnya lebih tinggi. Tiang-tiang penyangga tersebut bertumpu pada batu kali agar kedudukannya stabil.

Batu kali merupakan komponen yang cukup penting pula di lingkungan kampung suku Baduy. Selain digunakan untuk tumpuan tiang penyangga, batu kali juga digunakan sebagi penahan tanah agar tidak longsor. Caranya dengan ditumpuk membentuk benteng, atau dipakai untuk membuat anak tangga, selokan, ataupun tempat berjalan yang sangat berguna terutama jika musim hujan tiba.

Jenis atapnya disebut sulah nyanda. Pengertian dari nyanda adalah posisi atau sikap bersandar wanita yang baru melahirkan. Sikap menyandarnya tidak tegak lurus, tetapi agak merebah ke belakang. Jenis atap sulah nyanda tidak berbeda jauh dengan jenis atap julang ngapak. Jika jenis atap yang disebutkan terakhir memiliki dua atap tambahan di kedua sisinya, atap jenis sulah nyanda hanya memiliki satu atap tambahan yang disebut curugan. Salah satu atap pada sulah nyanda lebih panjang dan memiliki kemiringan yang rendah.

Rumah tinggal suku Baduy hanya memiliki satu pintu masuk yang ditutup dengan panto, yaitu sejenis daun pintu yang dibuat dari anyaman bilah-bilah bambu berukuran sebesar ibu jari dan dianyam secara vertikal. Teknik anyaman tersebut disebut sarigsig. Orang Baduy tidak mengenal ukuran seperti halnya masyarakat modern. Karena itu, mereka pun tidak pernah tahu ukuran luas maupun ketinggian rumah tinggal mereka sendiri.

Semuanya dibuat dengan perkiraan dan kebiasaan semata. Dalam menentukan ukuran lebar pintu masuk, mereka cukup menyebutnya dengan istilah sanyiru asup. Lebar pintu diukur selebar ukuran alat untuk menampi beras. Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan. Ruangan Inti

Pembagian interiornya terdiri dari tiga ruangan, yaitu sosoro, tepas, dan imah. Sosoro dipergunakan untuk menerima kunjungan tamu. Letaknya memanjang ke arah bagian lebar rumah. Selanjutnya, ruang tepas yang membujur ke arah bagian panjang atau ke belakang digunakan untuk acara makan atau tidur anak-anak. Antara ruangan sosoro dan tepas tidak terdapat pembatas. Keduanya menyatu membentuk huruf L terbalik atau siku.

Tampaknya bagian inti dari rumah suku Baduy terletak pada ruangan yang disebut imah karena ruang tersebut memiliki fungsi khusus dan penting. Selain berfungsi sebagai dapur (pawon), imah juga berfungsi sebagai ruang tidur kepala keluarga beserta istrinya.

Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar. Alas tersebut digunakan hanya sewaktu tidur, setelah itu dilipat kembali dan disimpan di atas rak. Cara tersebut menunjukkan bahwa kegunaan imah sangat fleksibel dan multifungsi. Di sekeliling ruangan imah terdapat rak-rak untuk menyimpan peralatan dapur dan tikar untuk tidur.

Secara garis besar, yang dinamakan imah adalah sebuah ruangan atau bagian inti dari tata ruang dalam rumah tinggal suku Baduy. Hampir seluruh kegiatan berpusat pada ruangan tersebut, baik hal-hal yang bersifat lahiriah, seperti menyediakan makanan dan minuman, maupun hal-hal yang batiniah, termasuk menjalankan peran sebagai pasangan suami-istri dan kepala keluarga.

Melalui kegiatan bergotong royong seluruh kampung, dalam sehari mereka dapat menyelesaikan sekitar sepuluh bangunan rumah tinggal yang luasnya lebih kurang 100-120 meter persegi. Hal ini dapat terlaksana karena mereka tinggal memasang seluruh komponennya.

Di Desa Cibeo terdapat 80 rumah tinggal dengan 100 kepala keluarga. Saat pelaksanaan program, seluruh warga turun bergotong royong, bahu-membahu membantu tanpa pamrih. Mereka menyumbangkan bahan bangunan, komponen rumah, atau tenaganya. Hal itu merupakan bentuk kebersamaan kolektif yang masih kuat dan dipelihara di kalangan suku Baduy Dalam hingga kini. Henry H Loupias Staf Pengajar Fakultas Ilmu Seni Universitas Pasundan dan Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Nusantara (NusArt)